Operasi Delta Force di Venezuela Trump Banggakan Kekuatan Militernya, Tapi Hancur di Mogadishu Tahun 1993

Sebuah helikopter Amerika yang rusak di Mogadishu, Somalia, 14 Oktober 1993. (Scott Peterson/Getty Images)
Sebuah helikopter Amerika yang rusak di Mogadishu, Somalia, 14 Oktober 1993. (Scott Peterson/Getty Images)
0 Komentar

MALAM itu langit Caracas dipenuhi ledakan. Helikopter MH-60M Black Hawk, F-35A, B-1B Lancer, dan pesawat pendukung lainnya milik militer AS menyerang infrastruktur militer dan sistem pertahanan udara angkatan bersenjata Venezuela.

Di tengah situasi itu, tim penyerbu bergerak. Berbagai pasukan yang dikomandoi Delta Force, menyergap Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Maduro sempat mencoba masuk ke ruang aman berlapis baja, tetapi Delta Force sudah mengantisipasi.

Trump membanggakan kekuatan militer AS yang ia sebut sebagai “pencapaian militer yang luar biasa” dalam operasi Amerika Serikat di Venezuela.

Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar

Hal tersebut disampaikan Trump di John F. Kennedy Center, Washington DC, pada Selasa sore, 6 Januari 2026, di hadapan para pendukung Partai Republik saat memaparkan operasi militer di Venezuela yang ia gambarkan sebagai sangat “kompleks”.

Sontak para Republikan memberikan tepuk tangan meriah dan sorak-sorai ketika Trump menjabarkan keberhasilan operasi bernama ‘Operation Absolute Resolve’ pada Sabtu, 3 Januari 2026, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa “sangat banyak” orang tewas ketika pasukan elit AS menyerbu kompleks tempat Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, berada di Caracas pada Sabtu. Trump menyebut sebagian besar korban tewas merupakan warga Kuba.

Sedikitnya 56 tentara Venezuela dan Kuba tewas dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1) waktu setempat.

Dalam konfirmasi pertama untuk korban militer, seperti dilansir Associated Press dan AFP, Rabu (7/1/2026), militer Venezuela mengatakan sedikitnya 24 personel militernya tewas dalam operasi militer AS pada 3 Januari lalu, yang diwarnai pengeboman terhadap sejumlah lokasi militer Caracas.

Terdapat lima personel militer Venezuela berpangkat Laksamana yang tewas akibat serangan AS tersebut.

Selain merenggut nyawa tentara Venezuela, operasi militer AS itu juga menewaskan sedikitnya 32 personel Angkatan Bersenjata dan Kepolisian Kuba yang bertugas di ibu kota Caracas juga tewas.

Baca Juga:Ketika Manusia Bertanya dan Mengugat, Jokowi Sudah MenjawabnyaUsai Aksi Protes Penggerebekan Imigrasi, Los Angeles Rusuh Donald Trump Kirim Ribuan Garda Nasional

Pemerintah Havana telah terlebih dahulu mengumumkan 32 nyawa warganya yang hilang di Venezuela, yang memicu penetapan masa berkabung selama dua hari di pulau Karibia tersebut.

0 Komentar