DETASEMEN Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri membongkar fenomena meresahkan di ruang digital yang menyasar kalangan remaja. Sebanyak 70 anak diidentifikasi telah terinfiltrasi ke dalam kelompok True Crime Community (TCC), sebuah ekosistem digital yang secara agresif mengglorifikasi tindakan kekerasan dan ekstremisme.
Juru Bicara Densus 88, Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana, dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1), menegaskan bahwa fenomena ini telah menyebar ke 19 provinsi. DKI Jakarta menjadi wilayah dengan paparan tertinggi (15 anak), disusul Jawa Barat (12 anak), dan Jawa Timur (11 anak).
“Mayoritas anak yang terpapar berada di fase transisi krusial, didominasi usia 15 tahun atau peralihan dari SMP ke SMA. Ini adalah usia rentan pencarian jati diri,” ujar Mayndra dilansir dari Antara, Rabu (7/1).
Ilusi ‘Rumah Kedua’ bagi Jiwa yang Rapuh
Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar
Berdasarkan hasil asesmen mendalam, Densus 88 menyoroti bahwa komunitas ini tidak sekadar menawarkan konten, melainkan memanipulasi psikologis anak-anak yang memiliki kerentanan emosional. Mayndra mengungkapkan, anak-anak ini menjadikan TCC sebagai “suaka emosional” atau rumah kedua.
Faktor pendorong utama bukanlah ideologi semata, melainkan akumulasi trauma domestik dan sosial. Mayoritas dari mereka adalah korban perundungan (bullying) serta berasal dari keluarga disfungsional (broken home), mulai dari perceraian orang tua, ketidakharmonisan, hingga paparan kekerasan domestik.
“Di dalam komunitas ini, aspirasi mereka didengar. Terjadi dialog yang seolah memberikan solusi atas masalah hidup mereka, namun solusinya diarahkan pada narasi kekerasan. Ini adalah bentuk validasi yang salah arah,” tegas Mayndra.
Propaganda Populer Tanpa Komando
Berbeda dengan jaringan teror konvensional yang hierarkis, TCC tumbuh secara organik dan sporadis tanpa tokoh sentral. Penyebarannya menunggangi gelombang budaya pop digital.
Propaganda disusupkan melalui kemasan visual menarik seperti video pendek, animasi, meme, hingga musik yang disukai remaja. Strategi ini, menurut Mayndra, sangat efektif membangkitkan semangat ekstremisme pada anak yang belum memiliki kemampuan berpikir kritis.
“Ini adalah pertemuan antara minat pada sensasionalisme media, ruang digital transnasional yang tanpa batas, dan kondisi psikologis anak yang labil,” tambahnya.
