Dampak Penggunaan Gadget pada Kesejahteraan Psikologi Anak di Bawah Umur

Icasia Klentha Wijaya, alumni Psikologi UKSW 2025
Icasia Klentha Wijaya, alumni Psikologi UKSW 2025
0 Komentar

MELIHAT banyaknya penggunaan gadget atau gawai pada anak usia dibawah umur berpendapat bahwa. Di era digital saat ini, gawai telah menjadi elemen tak terpisahkan dari keseharian anak sebagai sarana hiburan, edukasi, hingga komunikasi.

Namun, penggunaan yang tidak terkendali berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka, sebuah fenomena yang terlihat jelas di Indonesia. Berdasarkan data KPPPA tahun 2023, tercatat sekitar 68,6% anak menghabiskan waktu lebih dari 2 jam sehari dengan gawai, dan survei APJII 2022 memperlihatkan bahwa 35,5% di antaranya bahkan menggunakannya lebih dari 4 jam setiap harinya.

Jika dimanfaatkan dengan bijak, teknologi sejatinya menawarkan keuntungan signifikan bagi tumbuh kembang anak. Aplikasi edukasi dan gim interaktif dapat menstimulasi kreativitas serta kemampuan kognitif, membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus melatih kemandirian.

Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana

Selain itu, gawai juga berperan dalam pengembangan sosial, di mana anak dapat menjalin relasi dengan keluarga dan teman, melatih empati, serta membangun kepercayaan diri melalui komunitas daring yang positif. Keakraban dengan teknologi sejak dini juga melatih kemampuan adaptasi mereka agar lebih siap menghadapi tantangan masa depan yang serba digital.

Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan tanpa pengawasan membawa risiko serius terhadap kesejahteraan anak. Durasi layar yang ekstrem sering dikaitkan dengan gangguan emosional seperti peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan perilaku tantrum.

Paparan sinar biru dari layar juga dapat mengganggu produksi melatonin yang menyebabkan anak sulit tidur atau tidur tidak nyenyak, yang kemudian berdampak pada imunitas dan konsentrasi. Secara fisik, anak yang terpaku pada gawai cenderung pasif dan berisiko obesitas, sementara secara sosial mereka bisa mengalami isolasi akibat kurangnya interaksi tatap muka. Lebih jauh lagi, ketergantungan ini dapat memendekkan rentang perhatian dan menghambat kemampuan berpikir kritis.

Untuk meminimalisir dampak buruk dan mengoptimalkan manfaatnya, diperlukan strategi pengaturan yang tepat. Mengacu pada pedoman American Academy of Pediatrics, penggunaan gawai untuk anak usia 2-5 tahun sebaiknya dibatasi maksimal satu jam per hari untuk konten edukatif, sementara anak yang lebih besar memerlukan keseimbangan waktu yang sehat dengan aktivitas fisik.

0 Komentar