- Dominasi Sistem Otonom (Drone). Penggunaan massal UAV (udara), UGV (darat), dan UUV (bawah laut) membuat baterai Counter-Small Unmanned Aerial Systems (C-sUAS) dan Senjata Energi Terarah (DEW) menjadi sistem pertahanan wajib. Superioritas udara kini ditentukan oleh siapa yang paling ahli melakukan jamming dan spoofing.
- Perang Ruang Angkasa dan Bawah Laut Ruang angkasa menjadi domain militer aktif. Saat AS mengembangkan “Golden Dome”, negara seperti Jerman, Prancis, Inggris, China, dan India menggelontorkan miliaran Euro untuk mengamankan satelit mereka. Sementara itu, kabel komunikasi bawah laut yang memfasilitasi 99% trafik digital dunia kini menjadi target utama serangan gray-zone.
- Rudal Hipersonik & AI Laju rudal yang melebihi Mach 5 memaksa pengembangan arsitektur pertahanan udara berlapis seperti “Sky Shield” Eropa. Di balik itu semua, AI menjadi otak yang mengatur pengambilan keputusan cepat dan analisis prediktif di medan tempur.
Tren paling menakutkan di 2026 adalah pemanfaatan ketergantungan ekonomi sebagai alat pemaksaan. China telah memicu ketegangan dengan membatasi ekspor logam tanah jarang (rare-earth) dan komponen drone yang vital bagi manufaktur global. Sementara Barat membalas dengan menggunakan kontrol atas jaringan keuangan (SWIFT) dan platform cloud untuk membekukan aset dan melumpuhkan ekonomi lawan.
Dunia kini bergeser dari era keterbukaan menuju era “Sovereign Capabilities”, di mana setiap negara berlomba-lomba mengurangi ketergantungan mereka pada pihak lain demi keamanan nasional.
Tahun 2026 menandai berakhirnya strategi militer tradisional. Kini, dunia membutuhkan “Techno-Commanders”—pemimpin militer yang tidak hanya ahli strategi lapangan, tetapi juga mahir dalam perang siber, AI, dan sistem luar angkasa. Dengan Civil-Military Fusion (CMF) yang semakin kental, batas antara pemerintahan masa damai dan keamanan masa perang kini telah resmi menghilang.
