Sumber ini pun mengatakan pemerintahan Trump mengutamakan “retorika daripada kenyataan”. Mereka menekankan bahwa stabilitas politik adalah “yang terpenting” ketika perusahaan mempertimbangkan investasi di luar negeri.
Karena bertahun-tahun kurangnya investasi, krisis ekonomi, dan pengasingan internasiona (termasuk sanksi), infrastruktur minyak Venezuela dalam keadaan rusak. Bahkan negara itu tak memiliki uang untuk membenahi minyaknya sendiri.
“Venezuela bangkrut,” kata mantan ketua Citgo yang lahir dan dibesarkan di Venezuela, Luisa Palacios, masih dimuat laman yang sama.
Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar
“Tidak punya uang. Perusahaan minyak nasional berantakan. Hampir tidak mampu memberi makan rakyatnya,” tambahnya.
Dalam studinya, perusahaan konsultan Rystad Energy mengatakan untuk mempertahankan produksi minyak Venezuela tetap stabil di angka 1,1 juta barel per hari, negeri itu membutuhkan investasi sekitar US$53 miliar (Rp 888 triliun) selama 15 tahun ke depan. Namun, untuk mengembalikan Venezuela ke masa kejayaannya dengan produksi 3 juta barel per hari pada akhir tahun 1990-an, total pengeluaran modal untuk minyak dan gas perlu mencapai angka yang mengejutkan, yaitu US$183 miliar hingga tahun 2040.
Angka fantastis itu tidak hanya mencerminkan infrastruktur Venezuela yang sudah tua. Tetapi juga fakta bahwa sebagian besar minyaknya dianggap “berat” merujuk ke campuran minyak mentah yang lebih sulit dan lebih mahal untuk dimurnikan serta diproses daripada minyak yang AS miliki seperti di Texas.
Harga minyak sekitar US$60 tidak akan mendorong investasi. Apalagi harga murah saat ini.
