AKTIVITAS vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Pada Jumat (2/1) pagi, awan panas guguran terpantau meluncur sejauh 1.500 meter (1,5 km) dari puncak, mengarah ke hulu Kali Krasak.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan peristiwa tersebut terjadi pada pukul 07.39 WIB. Berdasarkan data seismogram, amplitudo awan panas tercatat mencapai 19,33 milimeter dengan durasi 136 detik.
“Awan panas guguran mengarah ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur 1.500 meter,” tulis BPPTKG dalam keterangan resminya, Jumat (2/1).
Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan pada Level III(Siaga). Petugas BPPTKG, Suratno Yulianto, mengungkapkan bahwa intensitas kegempaan masih tergolong tinggi.
Berdasarkan periode pengamatan 24 jam sebelumnya, Kamis (1/1), tercatat 107 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–36 milimeter. Selain itu, guguran lava pijar teramati sebanyak lima kali ke arah barat daya (Kali Sat/Kali Putih dan Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 1.900 meter.
BPPTKG memperingatkan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya. Wilayah yang harus diwaspadai mencakup aliran Sungai Boyong sejauh lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer.
“Sektor tenggara, termasuk Sungai Woro dan Sungai Gendol, juga berpotensi bahaya hingga lima kilometer. Apabila terjadi lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif, radius jangkauan bisa tiga kilometer dari puncak,” jelas Suratno.
Menyikapi kondisi ini, Balai Taman Nasional Gunung Merapi menegaskan bahwa jalur pendakian Gunung Merapi masih ditutup total untuk umum demi keselamatan.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY untuk memperketat langkah mitigasi. Ia menekankan pentingnya akurasi informasi bagi warga di lereng Merapi.
“Berikan informasi agar masyarakat pahami kondisi yang ada,” tegas Eko.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mematuhi arahan resmi dari BPPTKG maupun BPBD dan tidak mengambil risiko di zona bahaya.
Baca Juga:Ketika Manusia Bertanya dan Mengugat, Jokowi Sudah MenjawabnyaUsai Aksi Protes Penggerebekan Imigrasi, Los Angeles Rusuh Donald Trump Kirim Ribuan Garda Nasional
“Harus serius jalankan mitigasi bencana. Kalau memang tidak aman, masyarakat harus diingatkan demi keselamatan,” pungkasnya.
