Gaji Besar dan Pekerjaan Aman di Uni Emirat Arab, Ratusan Mantan Tentara Kolombia Direkrut ke Sudan

Gambar satelit selebaran dari Planet Labs PBC 2025 ini menunjukkan pangkalan yang dikelola UEA di Bosaso, Soma
Gambar satelit selebaran dari Planet Labs PBC 2025 ini menunjukkan pangkalan yang dikelola UEA di Bosaso, Somalia, pada 3 September 2025, dengan tiga pesawat Ilyushin Il-76D yang dilaporkan digunakan untuk mengangkut senjata dan tentara bayaran ke Sudan, menurut sumber. (FOTO: HANDOUT)
0 Komentar

RATUSAN mantan tentara Kolombia direkrut ke Sudan dengan iming-iming gaji besar dan pekerjaan aman di Uni Emirat Arab (UEA). Namun kenyataan yang mereka hadapi yaitu perang di negara yang jauh dengan pembantaian massal, pemerkosaan, kelaparan, serta perekrutan anak.

Investigasi AFP mengungkap cerita para tentara bayaran Kolombia bisa berakhir di jantung konflik Sudan melalui jaringan perekrutan dan keuntungan yang membentang dari Amerika Selatan hingga Darfur. Melalui wawancara dengan keluarga korban dan mantan tentara bayaran, analisis dokumen perusahaan, serta pelacakan lokasi rekaman medan perang, ada peran mereka dalam memperkuat Pasukan Pendukung Cepat (RSF), kelompok paramiliter yang dituduh melakukan genosida.

Pejuang asing memang terlibat di kedua pihak konflik, sebagian besar berasal dari negara-negara Afrika seperti Eritrea dan Chad. Namun, para analis menilai tidak ada kelompok dengan tingkat kecanggihan seperti tentara bayaran Kolombia yang direkrut karena keahlian mereka dalam penggunaan drone dan artileri jarak jauh.

Baca Juga:Tokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan BerencanaPemprov Jawa Barat Renovasi Gerbang Gedung Sate Berbentuk Candi Anggaran Capai Rp3,9 Miliar

Sebagai imbalan, mereka dijanjikan bayaran antara US$2.500 hingga US$4.000 per bulan atau enam kali lipat dari bayaran pensiun militer di Kolombia. Informasi itu menurut pengakuan seorang mantan tentara tersebut.

Pada 9 Desember, AS menjatuhkan sanksi kepada empat warga Kolombia beserta perusahaan mereka atas keterlibatan dalam jaringan transnasional tersebut. Namun, laporan itu tidak secara eksplisit menyebut peran simpul penting di UEA, yakni perusahaan kontraktor keamanan swasta bernama Global Security Services Group (GSSG). Perusahaan yang berbasis di Abu Dhabi itu memiliki daftar klien, termasuk beberapa kementerian UEA.

Pola disinformasi

UEA berulang kali membantah mendukung RSF. Seorang pejabat senior mengatakan UEA percaya bahwa ada pola disinformasi seputar perang ini yang tidak menguntungkan siapa pun.

Di Kolombia, keluarga para tentara bayaran menanggung penderitaan dalam diam. “Mereka masih belum membawa pulang jenazahnya,” ujar seorang janda yang menolak disebutkan namanya karena takut.

Suaminya, 33, tewas kurang dari tiga bulan setelah tiba di Sudan pada pertengahan 2024 saat RSF melancarkan ofensif untuk merebut Darfur barat. Selama berbulan-bulan, kelompok paramiliter itu mengepung El-Fasher, benteng terakhir tentara Sudan di wilayah tersebut.

0 Komentar