MESKI namanya terkesan vulgar, namun yang satu ini jauh dari kesan porno, bahkan anak-anak Kampung Jaten Cilik dan Pedurungan sangat menantinya.
Kupat ini hadir biasanya untuk memeriahkan syawalan. Diawali dengan pesta petasan sejak selepas salat subuh, bocah-bocah kampung biasanya langsung keluar rumah dan berebut ketupat berisi sayuran ini.
Mengutip buku Kuliner Semarangan Menikmati Rasa di Sepanjang Pesisir Utara Jawa, Mencecap Lezatnya Kekayaan Cita Rasanya, karya Murdijiati Gardjito, Murulia Nur Utami, dan Chairunisa Chayatinufus, kupat ini merupakan ketupat yang dimasak dengan aneka sayuran sehingga permukaannya tidak halus seperti ketupat atau kupat pada umumnya.
Baca Juga:Inisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen TepatJumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way Kanan
Tradisi ketupat jembut sudah ada sejak tahun 1950-an di beberapa kampung di sisi timur Kota Semarang, seperti di daerah Jaten, Genuksari, dan Pedurungan Tengah.
Tradisi ini bermula dari rasa keprihatinan warga yang baru saja mengalami perang dan ingin memperingati syawalan dengan bahan makanan yang lebih sederhana.
Mereka menggunakan sisa beras dari Idul Fitri untuk membuat ketupat dan mengisinya dengan sayur tauge yang mudah didapat.
Kemudian, mereka membagikan ketupat tersebut kepada anak-anak dan warga sekitar sebagai bentuk silaturahmi dan kebersamaan.
Filosofi Kupat Jembut dan Sejarah Tradisi Kupatan
Kupat jembut memiliki filosofi yang mendalam bagi warga Semarang.
Kupat melambangkan kesucian dan kebersihan hati, sedangkan tauge melambangkan kesuburan dan kesejahteraan.
Sambal kelapa yang menjadi pelengkap kupat jembut juga memiliki makna tersendiri.
Kelapa melambangkan kekuatan iman dan kesabaran, sedangkan cabai melambangkan semangat dan keberanian.
Baca Juga:Tom Lembong: 100 Persen Semua Izin Impor Diterbitkan Kemendag Ditembuskan KemenperinPasang Boks Tambahan Tampung Barang Bawaan Saat Mudik Lebaran, Tips Bagi Pengendara R2
Dengan demikian, kupat jembut mengajarkan kita untuk bersih hati, subur rezeki, kuat iman, sabar menghadapi cobaan, semangat berjuang, dan berani mengambil keputusan.
Tradisi kupatan memiliki sejarah panjang yang bermula dari masa Kesultanan Demak pada abad ke-16 M. Sunan Kalijaga, salah satu anggota Walisongo, memperkenalkan istilah Bakda Lebaran dan Bakda Kupat sebagai bagian dari strategi dakwah Islam yang adaptif terhadap budaya lokal.
Kata “kupat” atau “ketupat” sendiri berasal dari bahasa Jawa, dan memiliki beberapa interpretasi menarik. Ada yang mengaitkannya dengan “ngaku lepat” (mengakui kesalahan), “laku papat” (empat tindakan: lebaran, luberan, leburan, laburan – menandakan berakhirnya puasa, limpahan rezeki, peleburan dosa, dan pembersihan diri), dan “kafi” (cukup, mensyukuri cukupnya rezeki setelah Ramadhan).