INDONESIA memiliki beragam tradisi jelang Idul Fitri. Salah satunya, di Jawa dikenal tradisi nyekar atau ziarah kubur. Nyekar berasal dari kata sekar yang artinya kembang atau bunga.
Suasana hening menyelimuti kompleks pemakaman Gumuk, Dukuh Sodong Desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang saat warga melaksanakan tradisi ziarah kubur selepas Hari Raya Idul Fitri, Rabu (2/4).
Di kompleks pemakaman Gumuk terdapat makam kuno yang diyakini merupakan prajurit Pangeran Diponegoro.
Baca Juga:Inisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen TepatJumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way Kanan
“Dulu makam tua tersebut tidak menggunakan batu tetapi menggunakan kayu jati. Sayangnya, kayu makam tua itu diduga dicuri oknum warga yang tidak bertanggung jawab. Bentuk makam mirip lesung,” ungkap spiritualis Gus Farid Wibawa, Minggu (23/2).
Salah satu pemudik Cirebon asal Magelang yang sedang berziarah, Heru Subagia mengungkapkan bahwa ziarah kubur setelah Lebaran adalah tradisi turun-temurun.
“Setiap tahun setelah salat Id atau sehari-dua hari setelahnya, kami selalu menyempatkan untuk datang ke makam keluarga dan leluhur. Ini bentuk doa dan rindu untuk yang telah tiada,” ujarnya, Kamis, (3/4).
Menurut Heru, ziarah kubur selepas Lebaran bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi bentuk nyata penghormatan kepada orang tua dan leluhur. Hal ini mencerminkan kuatnya ikatan batin antara mereka yang masih hidup dengan yang telah berpulang.
“Tapi di momen seperti ini, ziarah bukan hanya untuk mendoakan, tapi juga mengenang jasa dan kebaikan mereka yang telah pergi,” pungkasnya.
Dikatakan dalam buku Dialektika Islam dan Budaya Nusantara oleh Prof Dr Suprapto, Mag, nyekar atau nyadran adalah kegiatan berdoa di makam agar arwah para leluhur memperoleh ampunan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Nyekar tak sekadar ritual terkait keagamaan, melainkan juga memiliki dimensi sosial dan budaya.
Baca Juga:Tom Lembong: 100 Persen Semua Izin Impor Diterbitkan Kemendag Ditembuskan KemenperinPasang Boks Tambahan Tampung Barang Bawaan Saat Mudik Lebaran, Tips Bagi Pengendara R2
Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Biandro Wisnuyana mengatakan nyekar mempunyai makna sakral dan profan.
Menurutnya, secara religius nyekar merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dengan cara berdoa dan memintakan ampunan untuk mereka. Sementara, dari perspektif antropologi simbolik, nyekar adalah lambang keterhubungan antargenerasi dalam masyarakat agraris yang menjunjung tinggi gotong royong serta kekeluargaan.