SEBAGAI salah satu sosok pejuang perempuan, Gondowati atau BRAy Gondowati, istri selir ke-13 Sultan Hamengkubuwono II yang selalu berjuang bersama laskar Gondho Wulung, pasukan Pangeran Diponegoro melawan Belanda.
Ia menjadi tokoh yang berperan bahwa tidak semua perempuan di istana Mataram kala itu hanya mengurusi urusan domestik.
Hingga kini, jejaknya masih terus dikenang. Salah satunya dengan menziarahi makamnya.
Baca Juga:Inisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen TepatJumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way Kanan
delik berkesempatan mengunjungi makam kramat Gumuk, Dukuh Sodong Desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, terdapat makam kuno yang diyakini merupakan pasukan elit perempuan Mataram yang membantu pertempuran Pangeran Diponegoro melawan Belanda, bulan Februari lalu.
Ziarah makam Gondowati diharapkan menjadi agenda rutin, harap tokoh muda Heru Subagia asal Magelang ini, memberikan doa atas jasa-jasa leluhur.
Ia menegaskan ziarah makam Gondowati ini adalah bukti bahwa kita tidak pernah melupakan sejarah, terlebih lagi sebuah figur yang dapat menginspirasi bahwa perempuan telah memiliki peran yang relevan dalam memimpin sejak masa Islam mulai berakar di tanah Jawa, bahkan di era sebelumnya. Dengan ketegasan, keberanian, serta keputusan yang tegas dan kepemimpinan yang kokoh, Gondowati berhasil menjadi figur penting Dukuh Sodong Desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang
“Momen ini adalah sejarah bahwa Dukuh Sodong Desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang pernah memiliki sosok pemimpin perempuan Gondowati yang berdampak signifikan bagi Magelang. Kehadirannya sebagai pemimpin perempuan memberikan gambaran jelas tentang peran penting perempuan dalam politik Indonesia. Keberaniannya dalam mengambil keputusan dan kemampuannya memimpin mungkin telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, baik pada zamannya maupun dalam konteks masa kini,” ungkapnya.
Meskipun informasi mengenai Gondowati mungkin terbatas, imbuh Heru, penegasan atas kontribusinya sebagai seorang pejuang perempuan telah memberikan penghormatan yang sepadan.
“Peran serta dedikasinya sebagai seorang pemimpin perempuan telah menjadikannya sosok yang patut kita hargai dalam sejarah Indonesia,” tegasnya, Kamis (3/4).
Menurut Heru, saat masa ketika perempuan jarang terlihat dalam peran kepemimpinan, kehadiran Gondowati memberikan inspirasi bagi generasi saat ini. Yakni untuk tidak menilai seseorang berdasarkan jenis kelaminnya, melainkan melihat kemampuan dan karakter dalam memimpin. Selain itu, memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.