Ketua kerabat istana Pajajaran adalah Prabu Surawisesa. Dengan bermusyawarah dengan Nyai Rara Santang dan Raden Kian Santang, terjadi persetujuan penting.
Raden Walangsungsang dimohon untuk memimpin kawasan Cirebon. Masyarakat lama sekali merindukan figur hebat seperti Walangsungsang.
Putra putri Pajajaran ini menobatkan Raden Walangsungsang sebagai raja Cirebon dengan gelar Pangeran Cakra Buana. Pusat pemerintahannya yakni menempati Istana Dalem Agung Pakungwati.
Baca Juga:Inisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen TepatJumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way Kanan
Pangeran Cakra Buana beribadah haji pada tahun 1485. Beliau lantas mendapat gelar Haji Abdullah Isnan. Bersamaan dengan itu istrinya yang bernama Prabamanik sedang mengandung.
Putri Prabamanik bergelar Ratu Syarifatul Andayah. Anak yang lahir itu lalu bernama Syarif Hidayatullah. Anak hebat ini kelak bergelar Sunan Gunung Jati.
Hubungan Cirebon dengan Kerajaan Demak sangat erat. Pangeran Hidayatullah menikah dengan Ratu Emas, putri Sultan Trenggana raja Demak. Selama Cirebon dipimpin Pangeran Syarif Hidayatullah, masyarakat hidup makmur ayem tentrem. Cirebon menjadi pusat budaya agung.
Puncak budaya Jawa berkembang dengan berbaur bersama kebudayaan Sunda. Cirebon dipimpin oleh Pangeran Syarif Hidayatullah sejak tahun 1524.
Kasultanan Cirebon semakin jaya dan termasyur. Panembahan Ratu memimpin sejak tahun 1548. Negeri Cirebon mengembangkan kesusastraan, kesenian, kebudayaan yang bersumber dari nilai Sunda dan Jawa. panembahan Ratu berhubungan erat dengan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, raja Pajang.
Sultan Cirebon ini kerap mengundang Sunan Kalijaga untuk memberi wejangan tentang syariat tarikat hakikat makrifat. Ajaran ini dikembangkan menjadi sembah raga cipta jiwa rasa.
Pangeran Karim yang bergelar Panembahan Girilaya menjadi Sultan Cirebon tahun 1639. Sultan Cirebon ini bersamaan dengan Sultan Agung. Selanjutnya Cirebon pada tahun 1666 dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta dengan gelar Panembahan Tohpati. Perjalanan dinasti Cirebon mengalami perkembangan.
Baca Juga:Tom Lembong: 100 Persen Semua Izin Impor Diterbitkan Kemendag Ditembuskan KemenperinPasang Boks Tambahan Tampung Barang Bawaan Saat Mudik Lebaran, Tips Bagi Pengendara R2
Pada tahun 1677 Cirebon dikelola dengan cara baru. Pangeran Marbawijaya menjadi Sultan Sepuh dengan gelar Sultan Raja Syamsuddin. Sejak itulah muncul istilah Kraton Kasepuhan Cirebon. Kegiatan ini mendapat sokongan penuh dari Kerajaan Mataram.
Adapun Pangeran Kertawijaya dinobatkan menjadi Sultan Anom dengan gelar Sultan Muhammad Badriddin. Pembagian kerajaan Cirebon menjadi dua ini terjadi pada tahun 1677. Kraton Kasepuhan beristana di Kratong Pakungwati, sedangkan kraton Kanoman menempati kediaman Pangeran Cakra Buana.