Ekonom Ingatkan Dampak Kebijakan Tarif Trump ke Indonesia, Berikut Langkah yang Perlu Dilakukan Indonesia

Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4) mengumumkan tarif setidaknya 10 persen untuk hampir semua barang yang
Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4) mengumumkan tarif setidaknya 10 persen untuk hampir semua barang yang masuk ke Amerika Serikat. (AFP)
0 Komentar

LANGKAH Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengenakan tarif resiprokal kepada Indonesia sebesar 32% bisa berimbas langsung terhadap ekonomi Indonesia.

Ekonom senior yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi & Manajemen IPB Bogor dan Universitas Paramadina, Didin S Damanhuri juga mengingatkan bahwa dampak kebijakan tarif Trump ini akan membuat tekanan terhadap kurs rupiah dan IHSG.

“Dampaknya yang segera adalah akan terjadi depresiasi Rupiah yang kini pun sampai dengan Rp 16.700/US$ dan tidak mustahil dalam beberapa hari ke depan akan melampaui Rp 17.000/US$ serta entah sampai berapa dalam lagi depresiasi rupiah tersebut akan terjadi,” ungkap dia dalam keterangannya, Rabu (3/4)

Baca Juga:Inisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen TepatJumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way Kanan

Sementara itu Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menekankan, langkah Trump akan berakibat pada perlambatan ekonomi yang masif.

Ia menganggap, bis dipastikan IMF, World Bank, OECD dan berbagai lembaga internasional lainnya akan segera melakukan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.

Ia pun menilai, risiko investasi global akan semakin tinggi, sehingga attitude “fly to quality” kembali terjadi. Kondisi itu membuat investor merelokasi investasi ke alternatif yang lebih aman, seperti emas, surat utang pemeritah, dan aset berdenominasi hard currency.

“Ekonomi banyak negara akan terdampak, baik melalui transmisi perdagangan dan/atau investasi. Harga saham dunia akan semakin volatile dengan trend menurun, nilai tukar mata uang banyak negara pun akan menunjukkan perilaku yang sama,” tegasnya.

Bagi Indonesia, Wijayanto menilai, pertumbuhan ekonomi akan terpengaruh dimana impian untuk tumbuh 5% tahun ini semakin tidak realistis. IHSG akan semakin volatile dan cenderung melemah, terutama untuk beberapa sektor berorientasi ekspor.

Sejalan dengan itu, rupiah akan tertekan dan cenderung melemah. Upaya refinancing utang dan utang baru sebesar Rp 800 triliun dan Rp 700 triliun di tahun ini menurutnya juga tidak akan mudah, selain kebutuhan akan return yang lebih menarik, Indonesia juga menghadapi ketidakpastian pasar yang semakin berat.

“Mengingat ekspor kita ke AS didominasi oleh produk industri padat karya (sepatu, TPT, produk karet, alat Listrik dan elektronik), maka tekanan PHK akan semakin kuat,” tegasnya.

0 Komentar