“Kami menggali mereka dengan seragam mereka, dengan sarung tangan. Mereka ada di sini untuk menyelamatkan nyawa. Sebaliknya, mereka berakhir di kuburan massal,” kata Whittall.
Seperti dilansir Anadolu dan 1news, insiden ini menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap personel kemanusiaan dalam beberapa tahun terakhir dan memicu kecaman keras dari berbagai organisasi internasional.
Kepala bantuan PBB pada Senin mengecam pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap paramedis dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), responden pertama dari Pertahanan Sipil Gaza, dan seorang anggota staf PBB yang tewas saat menjalankan tugas darurat di Jalur Gaza selatan.
Baca Juga:Jumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way KananTom Lembong: 100 Persen Semua Izin Impor Diterbitkan Kemendag Ditembuskan Kemenperin
Sebanyak “15 pekerja darurat dan bantuan di Gaza – dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina, Pertahanan Sipil Palestina, dan PBB – ditemukan terkubur di dekat kendaraan mereka yang rusak dan bertanda jelas,” tulis Tom Fletcher di X, saat ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Pada Ahad, Jonathan Whittall, pejabat senior urusan kemanusiaan di OCHA di wilayah Palestina yang diduduki, mengatakan “jenazah delapan PRCS, enam Pertahanan Sipil, dan satu staf PBB” telah ditemukan setelah serangan Israel sekitar seminggu yang lalu.
“Mereka tewas saat mengenakan seragam mereka. Mengemudikan kendaraan yang diberi tanda dengan jelas. Mengenakan sarung tangan. Dalam perjalanan untuk menyelamatkan nyawa,” kata Whittall di X.
Para petugas medis menjadi sasaran pada tanggal 23 Maret saat mereka menuju untuk memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang terluka akibat penembakan Israel di daerah Al-Hashashin.
“Mereka tewas oleh pasukan Israel saat mencoba menyelamatkan nyawa. Kami menuntut jawaban dan keadilan,” kata Fletcher.
Palang Merah Internasional/Bulan Sabit Merah menegaskan bahwa ini merupakan serangan paling mematikan terhadap personel mereka dalam delapan tahun terakhir.
Raed al-Nimis, juru bicara Bulan Sabit Merah di Gaza, menyatakan, “Mereka dibunuh dengan darah dingin oleh pendudukan Israel, meskipun misi kemanusiaan mereka jelas.”
Kronologi Tragedi
Baca Juga:Pasang Boks Tambahan Tampung Barang Bawaan Saat Mudik Lebaran, Tips Bagi Pengendara R2Mengenal Plengkung Gading yang Mulai Sistem Satu Arah, Mitos: Ilmu Hitam Seseorang Hilang Saat Melewatinya
Pada Ahad 23 Maret 2024, sekitar tengah hari, tim darurat dari Bulan Sabit Merah Palestina dan Pertahanan Sipil Gaza berangkat menuju distrik Tel al-Sultan di Rafah selatan.