PEMERINTAH China menegaskan pendekatan tetap berfokus lewat jalur diplomasi, sehingga berbeda dengan upaya Amerika Serikat terkait penanganan masalah nuklir Iran.
“Masalah nuklir Iran sekali lagi berada di persimpangan utama dengan risiko eskalasi dan juga peluang penting untuk mencapai solusi politik dan diplomatik melalui dialog dan negosiasi. China akan terus mempromosikan pembicaraan untuk perdamaian, bekerja untuk dimulainya kembali negosiasi, menemukan solusi yang adil, seimbang dan berkelanjutan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu (30/3) mengatakan bahwa jika Iran tidak menerima tuntutan AS untuk membatasi program nuklirnya maka AS akan membom Iran dengan pemboman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Baca Juga:Jumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way KananTom Lembong: 100 Persen Semua Izin Impor Diterbitkan Kemendag Ditembuskan Kemenperin
Hal itu disampaikan Trump menyusul surat yang ia kirimkan ke Iran melalui utusan Uni Emirat Arab, diplomat senior Anwar Gargash, yang menawarkan pembicaraan tentang program nuklir negara tersebut.
Iran juga sudah mengirim balasan ke AS melalui perantara yaitu Oman dan menyatakan bersedia mengadakan pembicaraan tidak langsung.
Pada masa jabatan pertamanya periode 2017-2021, Presiden Trump menarik AS dari kesepakatan tahun 2015 antara Iran dan negara-negara besar dunia yang memberlakukan batasan ketat pada aktivitas nuklir Teheran yang disengketakan dengan imbalan keringanan sanksi.
“Awal bulan ini, China menjadi tuan rumah pertemuan Beijing tentang masalah nuklir Iran, di mana pernyataan bersama menyebutkan lima poin usulan China tentang penyelesaian masalah nuklir Iran,” ungkap Guo Jiakun.
China, kata Guo Jiakun, berpendapat bahwa menyelesaikan masalah nuklir Iran melalui cara politik dan jalur diplomasi adalah satu-satunya pilihan yang tepat.