CUACA ekstrem melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah hingga NTB. Hujan deras yang berlangsung sejak Jumat (28/3) hingga beberapa hari setelahnya menyebabkan banjir.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan banjir terjadi di Ngawi, Kebumen, hingga Bima. Banjir mulai berangsur surut per Minggu (30/3) kondisi banjir di wilayah tersebut berangsur surut.
Meski begitu, Abdul Muhari tetap meminta masyarakat waspada dengan potensi bencana akibat cuaca ekstrem yang dapat terjadi usai Lebaran.
Baca Juga:Jumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way KananTom Lembong: 100 Persen Semua Izin Impor Diterbitkan Kemendag Ditembuskan Kemenperin
“Meskipun kondisi di beberapa wilayah mulai berangsur pulih, BNPB tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana lanjutan yang dapat terjadi akibat cuaca ekstrem,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Senin (31/3).
“Selain itu, masyarakat diminta untuk segera melaporkan kejadian bencana kepada pihak berwenang guna mempercepat upaya penanganan dan bantuan,” tambahnya.
Adapun data banjir yang terjadi di tiga wilayah tersebut sebagai berikut:
Kabupaten Ngawi, Jawa Timur
Hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Bengawan Madiun sejak Jumat (28/3) menyebabkan banjir di sejumlah desa. Air mulai meluap pada pukul 04.50 WIB, menggenangi jalan-jalan di beberapa kecamatan, terutama di bantaran Bengawan Madiun. Sebanyak lima kecamatan dengan total 15 desa terdampak oleh bencana ini.
Banjir melanda Kecamatan Kwadungan (Desa Simo, Sumengko, Purwosari, Tirak, Dinden, Warukkalong, dan Kendung), Kecamatan Pangkur (Desa Waruk Tengah, Pleset, Gandri, dan Ngompro), Kecamatan Ngawi (Desa Mangunharjo), Kecamatan Padas (Desa Bendo dan Banjaransari), serta Kecamatan Geneng (Desa Kersikan).
Sebanyak 764 Kepala Keluarga (KK) terdampak akibat bencana ini, dengan rincian tertinggi di Desa Sumengko sebanyak 330 KK. Selain itu, banjir juga menyebabkan kerugian materiil berupa 764 unit rumah terdampak dan sekitar 93 hektare sawah terendam dengan tinggi muka air (TMA) berkisar 20 cm hingga 40 cm.
Per Minggu (30/3), kondisi air mulai surut. Namun, beberapa wilayah seperti jalan raya di Desa Dinden dan Desa Kendung masih tergenang akibat permukaan tanah yang rendah serta drainase yang kurang lancar. Saat ini, tinggi muka air di daerah tersebut tercatat antara 10 hingga 15 cm.
Baca Juga:Pasang Boks Tambahan Tampung Barang Bawaan Saat Mudik Lebaran, Tips Bagi Pengendara R2Mengenal Plengkung Gading yang Mulai Sistem Satu Arah, Mitos: Ilmu Hitam Seseorang Hilang Saat Melewatinya
Bencana ini masih berada dalam status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi yang berlaku sejak 1 Desember 2024 hingga 31 Mei 2025. Pemerintah bersama berbagai pihak terus berupaya melakukan pemulihan dan membantu masyarakat yang terdampak.