Banjir yang Diprediksi Raja Purnawarman Era Tarumanegara Jadi Takdir Sejarah hingga Kini di Jabodetabek

Kondisi Banjir daerah Bekasi dari pantauan udara Polri, Rabu (5/3/2025). FOTO/Dok. Polri
Kondisi Banjir daerah Bekasi dari pantauan udara Polri, Rabu (5/3/2025). FOTO/Dok. Polri
0 Komentar

Banjir 2007 menyebabkan 55 orang meninggal dunia, warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang, dengan nilai kerugian sebesar Rp 8,8 triliun, terdiri dari Rp 5,2 triliun kerusakan dan kerugian langsung dan Rp 3,6 triliun merupakan kerugian tidak langsung.

Banjir Bekasi

Catatan arkeologi dan sejarah dapat memberi pelajaran atas situasi masa kini, termasuk soal banjir besar di Bekasi pada Senin (3/3/2025) dan Selasa (4/3/2025). Dari catatan masa lalu diketahui ternyata banjir Bekasi sudah diprediksi sejak 1.500 tahun lalu.

Penguasa Bekasi ribuan tahun lalu, yaitu Raja Purnawarman (372-434) dari Kerajaan Tarumanegara sudah menyadari daerah kekuasaannya itu punya topografi dataran rendah.

Baca Juga:Di Balik Tradisi Angpao di Tahun Baru ImlekKasus yang Bikin AKBP Bintoro Terseret Dugaan Pemerasan Nilai Miliaran Rupiah Terhadap Tersangka Pembunuhan

Topografi ini membuat wilayah tersebut jadi langganan genangan air hingga banjir. Apalagi tanah di sana berjenis rawa kering yang mudah terkena banjir. Kondisi pun makin parah jika sungai-sungai besar di sekitar Tarumanegara meluap saat musim hujan tiba, yakni Cisadane, Ciliwung, dan Citarum.

Saat ketiga sungai tersebut meluap, maka dinamika pemerintahan dan ekonomi di pusat pemerintahan kerajaan kuno tersebut menjadi terganggu.

Alhasil, untuk mengatasi banjir di wilayahnya, Purnawarman membuat megaproyek besar, yakni Candrabhraga dan Gomati, pada tahun 417 Masehi. Dalam buku Tarumanagara, Latar Sejarah dan Peninggalannya: Sebuah Pengantar (1991) dijelaskan, Candrabhaga dibuat Purnawarman yang lokasinya disebutkan melintasi istana Tarumanegara yang berada di Bekasi saat ini.

Setelah selesai dibangun, rupanya banjir tetap terjadi di Tarumanegara. Alhasil, Purnawarman memerintahkan pembangunan kembali sungai baru, yakni Gomati.

Aliran Sungai Gomati membentang sejauh 11 km dan selesai dalam waktu 21 hari. Selain mengatasi banjir, Gomati dibuat untuk mengairi sawah. Saat proyek berhenti dan sungai beroperasi, Purnawarman memerintahkan 1.000 ekor sapi kepada Brahmana.

Kedua sungai tersebut bermuara di wilayah Utara Jawa yang kini masuk wilayah administratif Jakarta Utara. Setelah eksistensi Tarumanegara berakhir, Sungai Chandrabhaga dan Gomati masih tetap eksis. Hanya saja, catatan sejarah juga menunjukkan banjir masih tetap terjadi di wilayah sekitar yang disebut Bekasi.

Dalam riset “Sejarah Banjir Bekasi 1924-2002” (2023) diketahui, hampir setiap tahun di masa kolonial Bekasi selalu banjir imbas meluapnya Chandrabhaga dan Gomati. Di masa kolonial, tercatat ada 5 banjir besar dari tahun 1924-1934 yang membuat Bekasi porak-poranda.

0 Komentar