BURSA kripto Bybit mengumumkan pada Jumat (21/2) waktu setempat bahwa sistem mengalami serangan siber atau hack. Hal ini mengakibatkan kerugian 401.346 Ethereum atau US$ 1,5 miliar alias Rp 24,5 triliun (kurs Rp 16.310 per US$).
Besarnya kripto yang dibobol diperkirakan menjadi pencurian kripto terbesar dalam sejarah. Pencurian ini langsung memicu penarikan dana dari Bybit, karena pengguna khawatir akan potensi kebangkrutan.
CEO Bybit Ben Zhou mengatakan arus keluar dana telah stabil. Untuk meyakinkan pelanggan, ia mengumumkan bahwa Bybit telah mendapatkan pinjaman dari mitra yang tidak disebutkan namanya, untuk menutupi kerugian yang tidak dapat dipulihkan dan mempertahankan operasi.
Baca Juga:Di Balik Tradisi Angpao di Tahun Baru ImlekKasus yang Bikin AKBP Bintoro Terseret Dugaan Pemerasan Nilai Miliaran Rupiah Terhadap Tersangka Pembunuhan
“Mohon yakinlah bahwa semua dompet panas dan dingin lainnya aman,” kata Ben Zhou lewat unggahan di X, Jumat (21/2).
“Semua penarikan berjalan normal.” Dompet dingin adalah jenis dompet kripto yang tidak terhubung ke internet. Dompet dingin sering kali berupa perangkat fisik, seperti thumb drive, yang menyimpan kunci pribadi secara offline.
Sementara itu, dompet panas adalah dompet kripto yang selalu terhubung ke internet atau perangkat lain yang terhubung. Dompet panas digunakan sebagai penyimpanan kunci sementara, yang berfungsi untuk mengirim dan menerima mata uang kripto.
“Bahkan jika kerugian akibat peretasan ini tidak dipulihkan, semua aset klien didukung 1 banding 1, kami dapat menutupi kerugian tersebut,” kata Ben Zhou dikutip dari Anadolu.
Perusahaan analisis blockchain, termasuk Elliptic dan Arkham Intelligence, melacak kripto yang dicuri saat dipindahkan ke berbagai akun dan segera dijual.
Nilai yang dicuri oleh hacker kali ini jauh melampaui pencurian sebelumnya di sektor ini, menurut Elliptic. Misalnya, Poly Network yang mengalami kerugian US$ 611 juta pada 2021 dan Binance yang dikuras US$ 570 juta pada 2022 oleh hacker.
Analis di Elliptic kemudian menghubungkan serangan itu dengan Lazarus Group dari Korea Utara, kelompok hacker yang disponsori negara yang terkenal karena menyedot miliaran dolar dari industri mata uang kripto.
Baca Juga:Menteri ATR/BPN Benarkan Pagar Laut Sepanjang 30,16KM di Perairan Tangerang Punya HGB dan SHM, Ini JelasnyaPemerintah Kabupaten Cirebon Tangani Banjir Bandang, Begini Langkah Strategis BBWS Cimancis
Kelompok itu dikenal karena mengeksploitasi kerentanan keamanan untuk mendanai rezim Korea Utara, sering kali menggunakan metode pencucian uang yang canggih untuk mengaburkan aliran dana.