Terungkap Alasan Orang Memilih Jadi Ateis, Simak Fakta-Faktanya

Ilustrasi. Foto: thinksem
Ilustrasi. Foto: thinksem
0 Komentar

DI Indonesia, diskusi tentang ateisme kembali mencuat setelah Mahkamah Konstitusi menolak uji materi yang meminta pengakuan resmi bagi warga negara yang tidak beragama pada awal Januari 2025. Menurut laporan dari Antara News, beberapa pemohon juga mengusulkan agar pendidikan agama menjadi mata pelajaran pilihan dan agar agama tidak menjadi syarat sah perkawinan. Isu-isu ini menunjukkan semakin beraninya individu dan kelompok untuk mengekspresikan pandangan non-agamis mereka di ruang publik.

Fenomena meningkatnya populasi ateis tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lain. Apa sebenarnya penyebab lonjakan ini? Mari kita telusuri lebih jauh.

Menurunnya Pengaruh Agama dalam Sosialisasi

Menurut penelitian Anna Strhan dari University of York, proses sosialisasi agama mengalami perubahan besar di generasi muda. Penelitian menunjukkan bahwa generasi baru cenderung kurang mendapatkan pendidikan agama dibanding generasi sebelumnya. Banyak keluarga modern menganggap agama sebagai pilihan pribadi, bukan kewajiban sosial. “Semakin banyak anak yang tumbuh dalam lingkungan yang lebih menekankan nilai-nilai humanis, seperti kebebasan individu dan rasionalitas,” tulis Strhan dalam jurnal Sociology of Religion tahun 2024. Di Inggris, misalnya, identifikasi sebagai “tidak beragama” kini menjadi hal yang umum. Hanya sekitar separuh populasi yang menyatakan kepercayaan kepada Tuhan dalam bentuk apa pun. Hal ini menunjukkan bahwa agama mulai kehilangan statusnya sebagai norma budaya.

Humanisme dan Sains sebagai Alternatif Keyakinan

Baca Juga:Menteri ATR/BPN Benarkan Pagar Laut Sepanjang 30,16KM di Perairan Tangerang Punya HGB dan SHM, Ini JelasnyaPemerintah Kabupaten Cirebon Tangani Banjir Bandang, Begini Langkah Strategis BBWS Cimancis

Peningkatan populasi ateis tidak hanya disebabkan oleh penurunan kepercayaan agama (faktor “push”), tetapi juga karena daya tarik alternatif nilai-nilai non-religius seperti humanisme (faktor “pull”). Humanisme menekankan pentingnya rasionalitas, empati, dan keadilan sosial. Penekanan pada sains dan pemikiran kritis di sekolah-sekolah juga memainkan peran besar. Misalnya, kurikulum di Inggris sering membandingkan pandangan agama dengan teori-teori ilmiah seperti Big Bang dan evolusi, sehingga membentuk pandangan dunia yang lebih ilmiah di kalangan siswa. Dalam wawancara dengan seorang siswa di Inggris, ia mengatakan, “Saya tidak percaya Tuhan karena menurut saya ini hanya mitos besar. Saya lebih mempercayai teori ilmiah yang memiliki bukti konkret.” Pandangan ini mencerminkan bagaimana pendidikan memainkan peran sentral dalam membentuk cara berpikir generasi muda.

0 Komentar