Betapa tidak, penulisan sejarah di negeri ini memang mengalami telat waktu. Penduduk negerinya sangat jarang yang berminat mendokumentasikan sejarahnya sendiri sehingga tidak ada jaminan kevalidan sebuah episode sejarah.
Justru yang banyak menulis sejarah negeri ini adalah sarjana-sarjana Barat yang kafir dengan kemungkinan besar banyak diselewengkan sesuai misi mereka.
Oleh karena itu, salah satu faktor jayanya penjajah Barat di bumi pertiwi adalah berkat sejarah bohong yang mereka palsukan. Hal ini disebutkan oleh Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah 1.
Baca Juga:Modus Penguasaan Area Laut, Lain Bekasi Lain TangerangHasil Penyelidikan Polisi Ada Dugaan Pemalsuan Dokumen SHGB dan SHM Pagar Laut Tangerang: 44 Saksi
Maka kiranya penduduk negeri ini perlu berterimakasih kepada Syaikh Muhammad Nuruddin bin Hasanji Ar-Raniri yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menulis beberapa episode sejarah negeri ini dalam karya fonumentalnya yang terkenal itu, yaitu Bustan As-Salathin fi Dzikr Al-Awwalin wa Al-Akhirin.
Sayangnya buku sejarah yang berharga ini belum mendapatkan perhatian yang cukup dari negeri ini. Pasalnya buku itu sampai sekarang masih dalam bentuk manuskrip yang berceceran di negeri-negeri Barat.
Hanya beberapa bagian saja yang sudah ditranslit ke bahasa Melayu dan Inggris, itu pun yang melakukannya bukan orang kita. Manuskrip lengkap untuk kitab ini konon ditemukan pada seorang kolektor naskah kuno di Aceh, namun ia belum mau mempublikasikannya ke khalayak meski sangat dibutuhkan karena buku ini ditulis langsung dari saksi sejarah.
Demikian juga dengan Tuanku Imam Bonjol yang menyempatkan diri untuk menulis sejarahnya dengan penjajah kafir dalam sebuah catatan-catatan hariannya.
Terlepas apakah kisah hukum mati yang dijatuhkan Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari kepada penganut faham wihdatul wujud bernama Haji Abdul Hamid, yang jelas ini dapat dijadikan sebagai bukti adanya kerusakan faham ini dan pertentangan yang cukup kuat dari kaum muslimin di negeri ini sejak masa silam.
Seakan tidak mau absen, Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani (1230-1314) yang digelari Sayyid Ulama Al-Hijaz oleh penduduk Taimur (Al-A’lam VI/318 karya Az-Zarkali) dan Syaikh ‘Utsman bin Yahya (…-1333), mufti Batavia, ikut serta memberantas ajaran sufi yang sedang marak di Syarq Aqsha (Timur Jauh/Indonesia). Keduanya bersepakat untuk memadamkan ajaran sufi yang tengah marak di Nusantara.